Budaya Orangutan
Seperti manusia, orangutan menggunakan alat dan memiliki budaya. Pola-pola "lokal" dari perilaku orangutan diturunkan dari induk atau rekan-rekannya kepada anak orangutan melalui proses pembelajaran sosial.
Di tahun 1960-an, perbedaan antara manusia dan kera besar secara luas dipercaya terletak pada kemampuan menusia menggunakan alat. Ternyata hal ini terbantahkan ketika Jane Goodall menemukan bahwa simpanse di Gombe, Tanzania membuat dan menggunakan alat untuk memancing rayap. Di samping itu, anggapan bahwa hanya manusia yang memiliki "budaya" didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan hal-hal yang mengikuti pola yang ditentukan (atau budaya) berdasarkan alasan yang tidak lain terkait dengan bagaimana perilaku tersebut dipelajari oleh sang anak dari orangtua atau rekan-rekannya. Saat ini, seperti halnya dengan penggunaan alat, simpanse pada awalnya, dan kemudian orangutan juga telah menunjukkan bahwa mereka memiliki budaya yang unik, kompleks dan berbeda-beda di seluruh wilayah penyebarannya.
Setiap malam, orangutan membuat sarang baru di pohon untuk tidur. Orangutan sumatera biasanya juga membuat sarang pada waktu sekitar tengah hari untuk semacam "tidur siang", tetapi seperti halnya memangsa kukang, perilaku ini tidak umum di Borneo. Sarang orangutan dapat dibuat dalam berbagai macam posisi yang berbeda di pohon dan dengan menggunakan metode konstruksi yang juga berbeda. Masing-masing individu memiliki keahlian sendiri dalam cara membuatnya. Jika terlihat akan hujan pada malam tersebut, kebanyakan orangutan juga akan menambahkan atap dari dedaunan untuk menghindari sarang dari kehujanan.